Friday, November 29, 2024

/

 

Ilustrasi


Sabtu (30/11/2024), Pemerintah Kota Tanjungpinang melalui Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Kesra), Tamrin Dahlan, membuka rangkaian kegiatan Peringatan Hari AIDS Sedunia di Gedung Kesenian Aisyah Sulaiman, Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Dengan tema "Hak Setara untuk Semua, Bersama Kita Bisa," acara ini menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap HIV/AIDS sekaligus mendorong langkah bersama menuju target mengakhiri HIV pada tahun 2030.


Ragam Kegiatan Membangkitkan Semangat Bersama

Peringatan ini dimeriahkan dengan berbagai kegiatan menarik seperti tarian zapin khas Melayu, talkshow edukatif, hingga pencabutan doorprize yang melibatkan antusiasme peserta.

Dalam sambutannya, Tamrin Dahlan menekankan pentingnya menempatkan hak-hak Orang dengan HIV (OdHiv) sebagai prioritas dalam segala upaya pencegahan dan penanggulangan HIV.

"Tema ini mengingatkan kita untuk memastikan bahwa setiap individu, termasuk OdHiv, memiliki akses yang sama terhadap hak hidup sehat, bebas dari stigma, diskriminasi, dan hambatan dalam memperoleh layanan kesehatan," ungkap Tamrin.

Ia juga mengajak masyarakat untuk menghayati slogan global Hari AIDS Sedunia 2024, "Take the Right Path," sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan sehat dan bermartabat.


Statistik Kasus dan Tantangan HIV/AIDS

Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana Kota Tanjungpinang, Rustam, menyampaikan bahwa HIV/AIDS masih menjadi tantangan besar di bidang kesehatan masyarakat. Pada 2023, terdapat 130 kasus HIV yang terdeteksi dari 14.678 orang yang diskrining. Dari jumlah itu, tercatat 60 kasus AIDS dan 13 kematian.

Hingga Oktober 2024, Rustam menginformasikan adanya penurunan jumlah kasus, yakni 98 kasus HIV dari 12.426 orang yang diskrining, dengan 21 kasus AIDS dan 18 kematian. Meski menurun, tantangan dalam menekan angka penularan dan kematian masih signifikan.

“Tingginya angka kasus ini sebagian besar disebabkan oleh faktor perilaku dan kondisi lingkungan. Oleh karena itu, peningkatan program pelayanan kesehatan di Puskesmas maupun rumah sakit menjadi hal yang sangat mendesak,” ujar Rustam.

Baca juga yang lain


Upaya Inovatif dalam Pencegahan

Rustam juga memaparkan perkembangan metode pencegahan HIV. Selain pendekatan tradisional seperti perubahan perilaku dan penggunaan kondom, kini tersedia pengobatan pra-pajanan (Pre-Exposure Prophylaxis/PrEP) yang dirancang untuk populasi kunci.

“Alternatif pencegahan seperti PrEP menjadi peluang baru yang perlu dimanfaatkan secara optimal. Namun, keberhasilan program ini tetap memerlukan dukungan masyarakat dan lembaga terkait untuk mengampanyekan hidup positif yang mencegah penularan HIV,” jelasnya.

Rustam menegaskan bahwa layanan kesehatan yang inklusif dan bebas diskriminasi adalah kunci utama dalam penanggulangan HIV.

“Fasilitas kesehatan harus menjadi tempat yang aman bagi semua orang, tanpa memandang status mereka. Namun, realitasnya, diskriminasi masih sering terjadi, bahkan di lingkungan keluarga. Ini harus menjadi perhatian bersama,” tuturnya.


Edukasi untuk Menghapus Stigma

Selain upaya medis, edukasi masyarakat tentang HIV/AIDS juga menjadi fokus utama untuk menghilangkan stigma dan kesalahpahaman.

“HIV/AIDS hanya menular melalui cara tertentu, seperti hubungan seksual tanpa pelindung, transfusi darah yang tidak aman, atau penggunaan jarum suntik bersama. Interaksi sosial biasa tidak akan menularkan HIV,” ujar Rustam.

Pemahaman yang benar ini, menurutnya, sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang inklusif dan mendukung bagi OdHiv.


Baca juga: Ibu Korban Selamat dari Kejaran Remaja Pembunuh di Jaksel, Lolos dengan Memanjat Pagar


Harapan Menuju Akhir HIV pada 2030

Rustam berharap peringatan Hari AIDS Sedunia ini menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam penanggulangan HIV/AIDS secara menyeluruh.

“Semoga melalui kegiatan ini, kesadaran masyarakat semakin meningkat, dan kita dapat bersama-sama mewujudkan target mengakhiri HIV pada 2030,” tutupnya.

Peringatan Hari AIDS Sedunia di Tanjungpinang menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan lembaga terkait sangat penting untuk mengatasi tantangan besar ini. Mari bergandengan tangan demi masa depan yang bebas dari HIV/AIDS!

Tonton video berikut: Klik di sini!




/

 

Ilustrasi lokasi nenek dan ayah dibunuh remaja di Cilandak, Jakarta Selatan, kini dipasangi garis polisi

Insiden mengerikan terjadi di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, pada Sabtu dini hari (30/11/2024). Seorang remaja laki-laki berinisial MAS (14) tega menghabisi nyawa ayah dan neneknya menggunakan sebilah pisau. Di tengah aksi brutal itu, ibunya, AP (40), berhasil melarikan diri meski mengalami luka serius di bagian pundak.

Menurut pengurus RW setempat, Irwan, AP melarikan diri dari rumah dengan cara memanjat pagar yang digembok. Saat itu, pelaku mengejar ibunya sambil membawa pisau. Namun, karena melihat darah yang berceceran di sekitar tempat kejadian, pelaku mengira ibunya telah meninggal.

"Ibunya keluar dari rumah loncat pagar, manjat, anaknya ngejar sambil bawa pisau. Mungkin karena darah yang berceceran, dikira ibunya sudah meninggal," ujar Irwan saat ditemui di lokasi kejadian.

Setelah berhasil keluar dari rumah, AP ditemukan tergeletak di depan gerbang rumah dalam kondisi bersimbah darah. Luka terbuka di pundaknya menjadi bukti upaya brutal yang dilakukan oleh anak kandungnya sendiri.


Baca juga: Putin Ancam Kiev: Rudal Hipersonik Oreshnik Siap Menyerang Ukraina


Pelaku Berusaha Kabur

Usai melakukan aksi sadisnya, MAS meninggalkan rumah. Pergerakannya sempat terekam oleh CCTV keamanan perumahan. Irwan mengatakan bahwa pelaku terlihat berjalan santai di taman perumahan saat pertama kali terpantau.

"Di CCTV kelihatan dia jalan di taman. Pakai baju dobel, mungkin untuk menutupi darah di celananya," jelas Irwan.

Namun, petugas keamanan yang curiga melihat darah di lengan pelaku segera mencoba menghentikannya. Saat ditegur, MAS langsung melarikan diri sejauh 300 meter.

"Satpam Pak Tomi yang pertama kali melihat dan menegur. Tapi dia langsung lari. Untungnya, tak lama kemudian pelaku berhasil diamankan oleh petugas keamanan," tambah Irwan.


Penangkapan dan Kehebohan di Lokasi

Setelah menangkap MAS, petugas keamanan segera melaporkan kejadian ini kepada pihak berwenang dan membawa mereka ke lokasi kejadian untuk memastikan situasi. Irwan menyebut suasana menjadi ramai sekitar pukul 05.00 WIB, dengan banyak warga yang mulai mengetahui insiden tragis tersebut.

Selengkapnya disini

Saat ini, polisi telah menahan pelaku untuk penyelidikan lebih lanjut, sementara AP yang mengalami luka parah telah mendapatkan penanganan medis. Motif di balik tindakan keji pelaku masih dalam penyelidikan pihak berwajib.

Tragedi ini menjadi pukulan berat bagi lingkungan sekitar yang mengenal keluarga tersebut. Masyarakat berharap ada solusi yang bisa mencegah terjadinya kejadian serupa di masa mendatang.

Tonton video berikut ini: Klik di sini!






Thursday, November 28, 2024

/

Ilustration

Russian President Vladimir Putin has issued a stark warning, stating that Russia’s military could launch a devastating attack on Ukraine's capital, Kyiv, using its advanced Oreshnik hypersonic missiles. Putin revealed that his military is already selecting potential targets in Ukraine for these next-generation weapons. During a meeting with Moscow’s regional allies in Astana, Kazakhstan, on Thursday, Putin described how these missiles could be aimed at key decision-making centers in Kyiv. He also indicated that military facilities, as well as defense and industrial companies, might be targeted, especially considering that the Kyiv government has repeatedly attempted to strike vital infrastructure inside Russia.


Oreshnik Missiles: A Game-Changer in Warfare

Putin emphasized that Russia has already deployed several Oreshnik hypersonic missiles and is ramping up production of these powerful weapons. These missiles, Putin stated, are designed to be nearly unstoppable, with speeds reaching Mach 10, and they generate temperatures of up to 4,000 degrees Celsius. 

"Anything in the center of the strike will be reduced to elementary particles, turning to dust," Putin warned, describing the destructive power of the Oreshnik system.

The Russian president also claimed that these hypersonic missiles could penetrate deeply fortified underground targets, making them even more lethal than conventional weapons. He went on to compare the scale of potential damage to that of a nuclear strike, signaling the missile's unprecedented capability.


Retaliation for Western Weapons in Ukraine

Putin framed the threat of using Oreshnik missiles as a direct response to what he called the West’s involvement in the war. He referred to the recent missile launch from Russia as a response to NATO countries' decisions to allow Ukraine to use long-range weapons against Russian territory.

"This makes NATO members directly involved in the conflict," Putin stated. 

On Wednesday night, Russian forces launched approximately 90 missile strikes and 100 drone attacks against military targets in Ukraine, targeting Ukrainian forces' use of Western weaponry.

Also read others

Putin indicated that more strikes using Oreshnik missiles could be on the horizon, asserting that the missile system is unmatched worldwide and likely to remain so for the foreseeable future. He made it clear that if Ukraine continues using Western long-range weapons to strike Russian territory, Russia would not hesitate to escalate its military response, including launching more combat tests of the Oreshnik system.


Oreshnik vs. Western Missiles

In his address at the CSTO (Collective Security Treaty Organization) meeting, Putin compared Russia’s Oreshnik missiles with similar systems such as the American ATACMS and the French/UK SCALP/Storm Shadow missiles, which Ukraine has used against Russian targets. However, Putin argued that Russia’s hypersonic missiles were superior in several aspects and that Moscow is able to produce far more of these advanced weapons than the entire NATO alliance combined.

This rhetoric from Putin reflects growing tensions between Russia and the West, particularly as Moscow continues to face increasing military support for Ukraine from NATO countries. By touting the capabilities of the Oreshnik missile system, Putin is sending a clear signal that Russia has formidable weapons at its disposal and is willing to use them in response to what it perceives as Western interference in the war.


Baca juga: Israel and Hezbollah Clash Again, Oil Prices Surge


The Growing Threat to Ukraine and the International Community

Putin’s comments highlight a worrying escalation in the ongoing conflict between Russia and Ukraine, underscoring the potential for further intensification of military action. With the threat of hypersonic missiles and the continuing deployment of advanced Russian weaponry, the situation in Ukraine remains volatile, and the involvement of NATO countries only complicates matters further. As Moscow makes clear its readiness to engage in more severe attacks, the international community is bracing for the next phase of this high-stakes conflict.

Watch the following video: Click here!




 

/

Ilustration

Global oil prices surged again on Thursday, fueled by escalating tensions in the Middle East between Israel and Hezbollah, alongside OPEC+'s decision to delay a critical policy meeting. These developments have heightened concerns in global energy markets, with fears of potential supply disruptions and uncertainty surrounding future oil production policies.


Middle East Tensions Push Oil Prices Higher

The ongoing conflict between Israel and Hezbollah intensified as both sides accused each other of violating a recently established ceasefire. The clashes led to Israeli military tanks launching attacks in southern Lebanon, an area already devastated by 14 days of fierce fighting.

Although the ceasefire allowed residents of both countries to return to their homes, the underlying tensions remain a global concern, especially as the Middle East is a key region for global oil production. While the conflict has yet to directly impact oil supplies, the risks associated with the situation are closely monitored by market participants.

Also read others

Oil Prices Climb in Response to Uncertainty

According to Reuters on Friday (November 29, 2024), Brent crude futures rose by 34 cents, or about 0.5%, to USD 73.17 per barrel. Meanwhile, U.S. West Texas Intermediate (WTI) crude futures increased by 16 cents, or 0.2%, to USD 68.88 per barrel.

The price uptick reflects market reactions to the geopolitical uncertainties stemming from the Israel-Hezbollah conflict. Tensions in the Middle East often trigger volatility in global oil prices due to the region's significant contribution to the world’s oil supply.


OPEC+ Delays Key Policy Meeting

In addition to geopolitical factors, attention is also focused on the Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) and its allies, collectively known as OPEC+. The group had initially scheduled a policy meeting for December 1, 2024, but it has now been postponed to the same day amid ongoing discussions about extending production cuts.

OPEC+ currently produces around half of the world’s oil and has maintained production cuts to support prices amidst weak global demand. Sources within OPEC+ suggest that the group is likely to extend the production cuts originally set to end in January.


Baca juga: Ensuring Transparency: Strict Monitoring in the Vote Counting for the Jakarta Gubernatorial Election


According to Rory Johnston, an analyst at Commodity Context, it is highly unlikely that OPEC+ will announce any production increases during the upcoming meeting. 

“Given the current market conditions, maintaining production cuts appears to be the most prudent course of action to stabilize prices,” Johnston stated.


Weak Global Demand Looms Over Energy Markets

Sluggish global demand remains a significant factor pressuring OPEC+ to reconsider plans for increasing production. With global energy consumption still below optimal levels, balancing supply and demand continues to pose a major challenge for the group. The decision to delay production increases aims to prevent further price declines in the oil market.


Conflict and Policy: Key Drivers of Oil Prices

The interplay between geopolitical tensions in the Middle East and OPEC+ policy decisions creates a complex dynamic in the global oil market. The conflict between Israel and Hezbollah, while not yet directly impacting supplies, raises concerns of broader escalation. At the same time, OPEC+’s cautious approach to maintaining production cuts reflects the fragility of the current market.

Moving forward, oil price movements will heavily depend on developments in the Middle East and the outcomes of the upcoming OPEC+ meeting. In this climate of uncertainty, stabilizing oil prices remains a persistent challenge for the global energy industry.

Watch the following video: Click here!




 

/

 

Ilustration

Tahapan Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jakarta 2024 telah memasuki fase krusial, yakni proses penghitungan suara resmi oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI Jakarta. Hasil dari penghitungan ini akan menjadi penentu utama dalam menentukan pemenang dan memastikan apakah Pilgub Jakarta akan selesai dalam satu putaran atau memerlukan putaran kedua.

Pasangan calon (paslon) nomor urut 3, Pramono Anung-Rano Karno, telah mendeklarasikan kemenangan. Mereka mengklaim meraih suara mayoritas dengan perolehan 50,07 persen berdasarkan rekapitulasi internal. Klaim ini diperkuat dengan hasil hitung cepat sejumlah lembaga survei yang juga menunjukkan pasangan tersebut unggul dengan perolehan suara di atas 50 persen. Meski demikian, angka tersebut masih berada dalam margin of error sekitar 1 persen, sehingga hasil resmi dari real count oleh KPU tetap menjadi acuan final.


Pengawasan Penghitungan Suara, Kunci Pemilu yang Kredibel

Proses penghitungan suara atau rekapitulasi yang dilakukan secara berjenjang menjadi perhatian utama. Pengawalan ketat dan transparansi proses ini sangat diperlukan untuk memastikan tidak ada celah bagi kecurangan. Rekapitulasi suara tingkat kecamatan telah dimulai sejak 28 November dan dijadwalkan selesai pada 3 Desember. Berikutnya, proses berlanjut ke tingkat kabupaten/kota pada 5-7 Desember, dan diakhiri dengan rekapitulasi tingkat provinsi pada 9-11 Desember. Hasil akhir akan diumumkan oleh KPU DKI Jakarta pada rentang waktu 10-16 Desember.

Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno, menegaskan pentingnya pengawasan ketat dalam tahapan rekapitulasi ini. 

"Rekapitulasi berjenjang ini menjadi dasar dari hasil resmi. Karena itu, pengawalan harus dilakukan secara maksimal di setiap tingkatan," ujar Adi.

Adi menyarankan agar saksi dari setiap paslon memastikan penghitungan berjalan transparan, mulai dari tingkat TPS hingga tingkat provinsi. Salinan hasil rekapitulasi dari setiap tingkatan juga perlu dimiliki sebagai bukti jika terjadi manipulasi suara. "Setiap hasil penghitungan harus disahkan dengan tanda tangan saksi dari masing-masing paslon. Ini langkah penting untuk mencegah perubahan suara di setiap level rekapitulasi," tambahnya.


Baca juga: Trump Threatens to Escalate Trade War with China and Allies


Partisipasi Semua Pihak dalam Pengawalan Suara

Tidak hanya saksi paslon, berbagai elemen masyarakat juga diimbau untuk ikut mengawasi jalannya proses penghitungan suara. Direktur Democracy and Electoral Empowerment Partnership (DEEP) Indonesia, Neni Nur Hayati, menekankan pentingnya keterlibatan semua pihak.

 "Pengawasan tidak hanya tanggung jawab saksi paslon, tetapi juga masyarakat umum, organisasi kemasyarakatan, dan relawan. Mereka harus aktif memantau proses rekapitulasi di setiap tingkatan," jelas Neni.

Menurut Neni, pengawasan melekat dan ketat dapat mencegah manipulasi suara yang berpotensi terjadi selama proses rekapitulasi. 

"Relawan tidak boleh lengah. Tahapan rekapitulasi ini adalah momen rawan terjadinya manipulasi. Ketelitian dan pengawasan ekstra diperlukan untuk memastikan suara rakyat tetap terjaga," tambahnya.


Bawaslu Diimbau Lebih Proaktif

Sebagai lembaga pengawas pemilu, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) juga memegang peranan penting dalam menjaga integritas hasil Pilgub Jakarta. Adi Prayitno menyoroti perlunya langkah proaktif dari Bawaslu dalam pengawasan.

"Selama ini, Bawaslu sering terlihat pasif, hanya menunggu laporan. Padahal, dalam situasi seperti ini, mereka harus jemput bola dan terlibat langsung di lapangan," tegasnya.

Neni Nur Hayati juga menambahkan bahwa legitimasi hasil Pilgub sangat bergantung pada efektivitas pengawasan Bawaslu. 

"Hasil pemilu harus memiliki legitimasi kuat. Jika Bawaslu lemah dalam pengawasan, manipulasi bisa terjadi, dan ini akan merusak kepercayaan masyarakat," katanya.

Selengkapnya disini


Pentingnya Kredibilitas Hasil Pilgub

Kredibilitas hasil Pilgub Jakarta menjadi pertaruhan besar dalam proses ini. Tidak hanya menyangkut siapa yang memenangkan Pilgub, tetapi juga kepercayaan masyarakat terhadap penyelenggaraan pemilu secara keseluruhan. Oleh karena itu, pengawalan dan transparansi dalam setiap tahapan, mulai dari penghitungan suara di TPS hingga rekapitulasi tingkat provinsi, harus menjadi prioritas semua pihak.

Kolaborasi antara penyelenggara pemilu, saksi paslon, relawan, masyarakat, dan lembaga pengawas diharapkan dapat memastikan hasil Pilgub Jakarta benar-benar mencerminkan suara rakyat. Keberhasilan proses ini akan menjadi tolok ukur penting bagi penyelenggaraan pemilu di masa mendatang.

Tonton video berikut: Klik di sini!



/

 

Ilustration


Donald Trump has sounded the alarm on a trade war with key trade partners, even before officially assuming office as President of the United States. His aggressive trade stance includes threats to raise import tariffs on several countries, particularly China. Initially, three countries would be hit by these high tariffs: China, Mexico, and Canada. Trump intends to impose a 25% tariff on imports from Mexico and Canada, and a 10% tariff on goods imported from China. "On January 20, as one of my first executive orders, I will sign all the necessary documents to impose a 25% tariff on all products entering the United States from Mexico and Canada," Trump stated on his Truth Social platform.

While the tariffs on Mexico and Canada would be lower than those on China, they would still be significantly higher than the current import duties on goods from these two countries. According to Trump, this policy aims to curb the flow of illegal immigrants from these countries into the U.S. via the borders where goods are imported and exported. Additionally, the move is meant to stop illegal drugs, including fentanyl, from entering the U.S. from Mexico, Canada, and China.

Watch the following video: Click here!



"These tariffs will remain in place until drugs, particularly fentanyl, and all illegal immigrants cease their invasion of our country!" Trump added.

 He also mentioned that his administration had repeatedly asked China to take action against drug traffickers supplying the U.S. but had not seen any results. 

"I've had many talks with China about the large amounts of drugs, particularly fentanyl, coming into the United States. But nothing has been done," he said.

In response, Liu Pengyu, a spokesperson for the Chinese Embassy in the U.S., argued that China had been working to crack down on drug trafficking within its borders and prevent illegal drugs from being exported to the U.S.

 "The idea that China is deliberately allowing fentanyl precursors to flow into the United States is completely contrary to the facts and reality," said Pengyu.

Regarding the tariffs imposed on China, Pengyu expressed hope that these policies would ultimately benefit both the U.S. and China. 

"On the issue of tariffs, China believes that economic and trade cooperation between the two countries is mutually beneficial. No one will win in a trade war or tariff war," he remarked.


Baca juga: Ministry of Health Intensifies HIV/AIDS Education to Reduce Surge in Cases


Trump had already initiated a trade war during his first term as president from 2017 to 2021. The trade conflict was sparked by Trump’s dissatisfaction with the U.S. trade deficit with China. In response, Trump raised tariffs on solar panels and washing machines to 30% and 20%, respectively. This action marked the beginning of the trade war on January 22, 2018.

Want more details? Here, please!

Trump further imposed a 25% tariff on steel imports and a 10% tariff on aluminum in March 2018. In retaliation, China raised tariffs on U.S. pork and scrap aluminum by 25% and implemented a 15% tariff on 120 American commodities, including almonds and apples. China also filed a complaint with the World Trade Organization (WTO) regarding the U.S. tariffs on steel and aluminum imports.

/

 

Ilustration

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terus memperkuat edukasi kesehatan reproduksi di kalangan anak muda sebagai langkah utama untuk menekan prevalensi HIV/AIDS. Upaya ini sejalan dengan target "Three Zero" HIV/AIDS, yaitu mengeliminasi infeksi baru, diskriminasi, dan kematian akibat AIDS, serta mengurangi penularan HIV dan sifilis dari ibu ke anak.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes, Ina Agustina Isturini, menyoroti peningkatan prevalensi HIV pada remaja dan dewasa muda usia 15-24 tahun di Indonesia dan beberapa negara lainnya di Asia. Data 2023 menunjukkan adanya lonjakan yang signifikan dibandingkan dengan tahun 2019, terutama di kalangan lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki (LSL). "Prevalensi HIV pada remaja dan dewasa muda usia 15-24 tahun meningkat di beberapa negara, termasuk Indonesia. Angka prevalensi pada populasi LSL muda di kawasan Asia, termasuk Indonesia, bahkan lebih tinggi dari rata-rata global," ujar Ina dalam pernyataannya yang dikutip dari Antara pada Kamis (28/11/2024).


Data Terkini tentang HIV/AIDS di Indonesia

Menurut Sistem Informasi HIV/AIDS (SIHA) hingga September 2024, sebanyak 71 persen orang dengan HIV (ODHIV) di Indonesia telah mengetahui statusnya. Namun, hanya 64 persen yang mendapatkan terapi antiretroviral (ARV), dan dari jumlah tersebut, hanya 48 persen yang berhasil mencapai tingkat supresi virus (viral load yang terdeteksi dan ditekan).

Untuk mencapai target "Three Zero" pada tahun 2030, Ina menyatakan bahwa diperlukan langkah besar dengan menetapkan sasaran berikut:

  • 95 persen ODHIV terdiagnosis
  • 95 persen ODHIV menjalani terapi ARV seumur hidup
  • 95 persen ODHIV mengalami supresi virus sebagai bukti keberhasilan pengobatan ARV

Ina juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mencapai target ini. Ia menyoroti bahwa peningkatan edukasi kesehatan reproduksi di kalangan remaja menjadi prioritas, mengingat kelompok ini rentan terhadap penyebaran HIV akibat minimnya pemahaman tentang risiko.


Baca juga: Teks Lengkap Perjanjian Gencatan Senjata 13 Poin Israel-Hizbullah


Pentingnya Pengetahuan HIV/AIDS di Kalangan Muda

HIV Senior Advisor dari Monitoring dan Evaluation USAID Bantu II, Aang Sutrisna, menambahkan bahwa edukasi tentang HIV/AIDS di Indonesia masih memerlukan banyak perbaikan. Data sementara dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2024 menunjukkan tren serupa dengan hasil SDKI 2017, di mana pengetahuan masyarakat tentang HIV/AIDS, meskipun meningkat, masih jauh dari target.

"Pengetahuan komprehensif tentang HIV meningkat dari tahun 2007 hingga 2017, namun lebih tinggi di kelompok usia 20-24 tahun dan pada perempuan. Proyeksi SDKI 2024 menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan tetap rendah di kalangan remaja," jelas Aang.

Ia juga memaparkan bahwa pada tahun 2024, diperkirakan terdapat sekitar 40 juta anak muda berusia 15-24 tahun di Indonesia. Meskipun prevalensi hubungan seksual di kalangan remaja usia 15-19 tahun tergolong rendah, yakni di bawah lima persen, angka tersebut tetap signifikan karena ukuran populasi yang sangat besar. 

"Sekitar lima persen dari 40 juta anak muda berarti dua juta anak, dan dari angka tersebut, diperkirakan sekitar 100 ribu anak usia 15-19 tahun mungkin pernah melakukan hubungan seksual," ungkapnya.


Langkah Konkret Menuju Penurunan Prevalensi

Kemenkes berkomitmen untuk memperluas cakupan edukasi, baik melalui program di sekolah maupun komunitas. Pendekatan ini mencakup penyampaian informasi yang mudah dipahami terkait risiko HIV/AIDS, pentingnya penggunaan pengaman, dan akses ke layanan kesehatan reproduksi yang ramah bagi anak muda.

Selain itu, kampanye ini melibatkan partisipasi aktif dari berbagai pihak, termasuk lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, hingga media sosial, untuk menjangkau audiens yang lebih luas. Dengan peningkatan kesadaran dan pengetahuan, diharapkan prevalensi HIV/AIDS di kalangan remaja dan dewasa muda dapat ditekan secara signifikan.


Dukungan Internasional dan Nasional

Pemerintah Indonesia, bersama dengan mitra internasional seperti USAID, terus berupaya menyediakan layanan kesehatan yang inklusif untuk mendukung target global 95-95-95. Dukungan ini mencakup pelatihan tenaga kesehatan, distribusi ARV, dan pengembangan infrastruktur kesehatan untuk memastikan akses layanan yang merata di seluruh pelosok negeri.

Ingin lebih detail? Disini aja!

Edukasi yang intensif dan kolaborasi lintas sektor diharapkan dapat menjadi langkah besar dalam mengatasi tantangan HIV/AIDS, sekaligus mendukung generasi muda Indonesia untuk hidup lebih sehat dan produktif.

Tonton video berikut ini: Klik di sini!




Powered by Blogger.

Berita populer

Evaluasi 100 Hari Pemerintahan Prabowo: Kepuasan Publik dan Tantangan ke Depan

  Presiden dan Wakil Presiden Memasuki 100 hari pertama masa kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, berbagai survei menunjukkan tingkat kep...

Search This Blog

Home Ads

Facebook

About



Your source for the lifestyle news. This demo is crafted specifically to exhibit the use of the theme as a lifestyle site. Visit our main page for more demos.

Popular Posts

Popular Posts

BTemplates.com