![]() |
| Ilustrasi - rongent paru. (ANTARA/dok) |
Skrining kanker paru menjadi langkah penting bagi individu yang memiliki risiko tinggi terkena penyakit ini, terutama bagi perokok aktif dan kelompok rentan lainnya. Dr. Sita Laksmi Andarini, dari Divisi Imunologi dan Penyakit Paru Interstisial, Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKUI, menyarankan agar perokok aktif yang telah mencapai usia 40 tahun ke atas segera melakukan skrining untuk mendeteksi kanker paru sejak dini.
Kelompok Rentan yang Wajib Jalani Skrining
Dalam diskusi daring memperingati Bulan Kesadaran Kanker Paru, Dr. Sita menjelaskan bahwa kelompok usia 45 tahun ke atas yang merupakan perokok aktif atau mantan perokok dengan riwayat berhenti kurang dari 10 tahun masuk dalam kategori berisiko tinggi.
Selain itu, beberapa kelompok lain juga disarankan untuk menjalani skrining, seperti:
- Pekerja tambang dan pekerja berisiko tinggi yang terpapar zat berbahaya seperti asbes atau bahan kimia tertentu.
- Keluarga dengan riwayat kanker paru, karena faktor genetik dapat meningkatkan kemungkinan seseorang terkena kanker ini.
Kenapa Skrining Dini Sangat Penting?
Salah satu masalah utama dalam penanganan kanker paru adalah banyaknya pasien yang baru terdiagnosis pada stadium lanjut, khususnya stadium 4. Pada tahap ini, peluang kesembuhan menurun drastis karena kanker sudah menyebar luas di dalam tubuh.
Menurut Dr. Sita, keterlambatan diagnosis ini disebabkan oleh karakteristik kanker paru yang tidak menunjukkan gejala pada tahap awal. Gejala baru muncul saat penyakit sudah mencapai tahap lanjut, seperti:
- Sesak napas akibat cairan di paru-paru.
- Batuk kronis berkepanjangan tanpa penyebab jelas.
"Kanker paru tidak memiliki gejala khas seperti penyakit kanker lainnya. Biasanya gejala baru muncul jika sudah ada cairan di paru-paru, yang menandakan bahwa pasien telah mencapai stadium 4," ungkap Dr. Sita.
Hal ini diperburuk oleh fakta bahwa paru-paru tidak memiliki indra perasa seperti organ lain, sehingga tubuh tidak dapat memberikan sinyal awal saat ada masalah di organ ini.
Data Mengkhawatirkan Tentang Kanker Paru
Kanker paru masih menjadi salah satu jenis kanker dengan tingkat kematian tertinggi di dunia. Pada tahun 2021, data menunjukkan ada 183.368 kasus kanker paru di Indonesia, dengan tingkat kematian mencapai 96 persen. Angka ini menunjukkan bahwa hampir semua pasien yang terdiagnosis akhirnya kehilangan nyawa akibat penyakit ini.
Dr. Sita menekankan bahwa rendahnya kesadaran untuk melakukan skrining sejak dini menjadi salah satu penyebab tingginya tingkat kematian ini. Oleh karena itu, ia mengimbau masyarakat, terutama kelompok risiko tinggi, untuk tidak menunda pemeriksaan.
Langkah Skrining untuk Deteksi Dini
Skrining kanker paru dapat dilakukan dengan metode seperti low-dose CT scan (LDCT), yang efektif mendeteksi keberadaan kanker paru pada tahap awal. Pemeriksaan ini sangat dianjurkan bagi:
- Perokok aktif dengan usia di atas 40 tahun.
- Mantan perokok dengan riwayat berhenti kurang dari 10 tahun.
- Orang yang memiliki riwayat paparan zat berbahaya dalam pekerjaan.
Harapan untuk Masa Depan
Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya skrining kanker paru, diharapkan angka keterlambatan diagnosis dapat ditekan. Dr. Sita menambahkan bahwa pencegahan dan deteksi dini adalah kunci utama untuk mengurangi angka kematian akibat kanker paru.
"Jika kita bisa mendeteksi kanker sejak dini, peluang kesembuhan akan jauh lebih besar. Jangan tunggu sampai gejala muncul, karena pada saat itu biasanya sudah terlambat," tutup Dr. Sita.
Detail selengkapnya ada di sini!
Tonton video berikut: Klik di sini!

0 comments:
Post a Comment